Ustadz Adi Hidayat ( Foto: Screenshoot YouTube Adi Hidayat Official)
Jakarta, Terasmuslim.com - Fenomena Dajjal sering kali dikaitkan dengan sosok bermata satu yang muncul di akhir zaman. Namun, menurut Ustadz Adi Hidayat (UAH), fitnah Dajjal sejatinya sudah hadir sejak lama dalam bentuk pemikiran, ucapan, dan retorika yang menyesatkan dari ajaran Islam.
Fitnah ini begitu halus, memikat banyak orang, dan menjauhkan mereka dari jalan Allah tanpa disadari.
UAH menjelaskan, dalam istilah agama, “Masih Dajjal” mengacu pada sosok nyata yang akan muncul kelak, sedangkan “Dajjal” secara umum lebih mengarah pada sifat pendusta yang mengancam akidah umat Islam.
Dalam hadis riwayat Muslim, disebutkan akan muncul para pendusta cerdas yang lihai bicara, bahkan mengutip ayat-ayat Al-Qur`an, tapi ujungnya justru membawa kesesatan.
Salah satu contoh pemikiran yang menurut UAH mencerminkan fitnah Dajjal adalah klaim bahwa semua agama itu sama.
Pernyataan semacam ini, kata UAH di kanal YouTube @CeramahAswajaIslami, yang dikutip Senin (21/7), tidak hanya salah kaprah tetapi juga berbahaya karena bisa menggiring umat pada penyimpangan akidah.
Bahkan, orang jahiliah di masa Nabi Muhammad SAW pun mengakui perbedaan agama, meski mereka belum mendapatkan hidayah. Ironisnya, di era sekarang, justru banyak kaum terpelajar yang menyebarkan pandangan pluralisme yang keliru.
UAH menceritakan, ia pernah menemukan buku yang mencaci para ulama besar seperti Imam Syafi`i dengan dalih pluralisme, bahkan mencatut ayat-ayat Al-Qur`an secara keliru demi membenarkan klaim tersebut.
Bagi UAH, hal ini mencerminkan sifat Dajjal—bukan sebagai makhluk, tetapi sebagai sifat penyesat yang berbahaya.
Sebagai solusi, UAH mengingatkan umat Islam agar berhati-hati. Jangan terpukau hanya karena seseorang cerdas atau bergelar tinggi.
Dalam surah An-Nisa ayat 140, Allah memerintahkan untuk menjauhi mereka yang memperolok agama, bukan untuk membalas dengan kebencian, melainkan agar mereka menyadari kesalahannya.
UAH juga menyerukan agar umat tidak memberi panggung kepada penyimpangan. Jangan undang mereka berceramah, jangan sebarkan medianya, dan jangan promosikan karyanya.
Bukan soal benci, tapi soal menjaga kemurnian akidah. Dalam Islam, toleransi tetap dijunjung tinggi, tetapi keyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar adalah prinsip iman yang tidak boleh ditawar.
Mengutip surah Ali Imran ayat 19, UAH menegaskan bahwa meyakini Islam sebagai satu-satunya jalan yang benar bukan hanya ajaran agama, tetapi juga sejalan dengan konstitusi Indonesia. Pasal 29 UUD 1945 melindungi hak beragama setiap warga negara sesuai kepercayaannya.
Di akhir pesannya, UAH mengingatkan bahwa urusan akidah harus dihadapi dengan ketegasan, bukan kekerasan. Bila ada saudara yang menyimpang, doakan, arahkan, tapi jika tetap keras kepala, tinggalkan tanpa perlu permusuhan.
Di era penuh fitnah ini, umat Islam harus memperkuat iman, memperdalam ilmu, dan berpegang teguh pada Al-Qur`an serta sunnah agar tidak mudah tersesat oleh fitnah Dajjal zaman modern.