Ilustrasi foto ibadah tidak sesuai ajaran Rasulullah
Terasmuslim.com – Setiap Muslim tentu ingin meneladani Rasulullah ﷺ dalam beribadah. Namun, tak jarang niat baik justru bisa terjebak dalam praktik-praktik yang tidak memiliki dasar dari ajaran Nabi. Dalam Islam, ibadah memiliki aturan ketat: harus ada tuntunan dari Rasulullah, baik secara lafaz maupun perbuatan.
Ibadah yang tidak pernah diajarkan Nabi disebut sebagai bid’ah syar’iyyah, yaitu perbuatan baru dalam agama yang disangka sebagai ibadah, padahal tidak ada contohnya dalam Al-Qur’an, sunnah, ataupun praktik para sahabat.
Berikut adalah beberapa bentuk ibadah yang sering dilakukan sebagian umat, namun tidak memiliki dasar syar’i yang jelas:
Tidak ada satu pun riwayat yang menunjukkan bahwa Rasulullah atau para sahabat mengadakan ritual doa secara berjamaah di hari-hari tertentu setelah seseorang meninggal. Doa untuk mayit adalah anjuran mulia, tapi membingkainya dalam tradisi hitungan hari tertentu tanpa dasar syariat adalah bentuk bid’ah.
Rasa cinta kepada Rasulullah adalah bagian dari iman. Namun, membuat peringatan tahunan berupa ritual ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi sendiri adalah bentuk penghormatan yang keliru arah. Nabi tidak pernah memerintahkan umatnya untuk merayakan hari kelahirannya.
Meski sebagian ulama membolehkan doa atau amalan tertentu di malam Nisfu Sya’ban, tidak ada salat khusus dengan jumlah rakaat tertentu yang diajarkan Nabi. Hadis tentang salat malam Nisfu Sya’ban tergolong lemah dan tidak bisa dijadikan landasan ibadah.
Rajab adalah salah satu dari bulan haram, tapi tidak ada dalil sahih yang menyebutkan keutamaan puasa khusus di bulan ini. Rasulullah tidak pernah menganjurkan puasa dengan niat khusus di Rajab. Yang disyariatkan adalah puasa sunnah umum seperti Senin-Kamis atau ayyamul bidh.
Zikir adalah amalan agung. Namun, mengeraskan suara secara serempak dan berjamaah setiap selesai salat bukanlah praktik yang diajarkan Nabi secara rutin. Rasulullah dan para sahabat berdzikir secara individu dan tidak membuat ritual zikir kolektif dengan format yang tetap.
Ziarah kubur disunnahkan kapan saja. Tapi menjadikan hari raya Idulfitri atau Iduladha sebagai momen wajib ziarah kubur secara massal dengan bacaan tertentu tidak pernah dicontohkan Rasulullah. Apalagi jika diyakini sebagai bagian dari tuntunan agama.
Membaca Al-Qur’an adalah ibadah yang agung. Tapi membacanya dengan irama seragam dan suara keras dalam satu waktu berjamaah bukanlah praktik yang berasal dari Nabi atau sahabat. Ini lebih mirip pertunjukan daripada ibadah.
Ibadah itu harus berdalil
Islam adalah agama yang mengajarkan tata cara ibadah secara rinci, bukan berdasarkan asumsi, tradisi, atau niat baik semata. Jika sesuatu dianggap ibadah padahal tidak memiliki dasar dari Rasulullah ﷺ, maka itulah bid’ah yang wajib ditinggalkan.
Ulama sepakat bahwa bid’ah dalam urusan ibadah lebih berbahaya dibandingkan maksiat, karena pelakunya mengira tengah mendekatkan diri kepada Allah, padahal justru menjauh dari sunnah Nabi.
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka ia tertolak.” (HR. Muslim)