• KEISLAMAN

Traktir Teman dalam Islam, Ini Penjelasannya

Yahya Sukamdani | Rabu, 18/06/2025
Traktir Teman dalam Islam, Ini Penjelasannya Ilustrasi traktir teman

Terasmuslim.com - Di banyak budaya, mentraktir teman menjadi bagian dari cara berbagi kebahagiaan. Saat ulang tahun, naik jabatan, atau sekadar berkumpul, tak sedikit orang yang mengajak sahabat dan keluarga untuk makan bersama atas biaya sendiri. Lalu bagaimana pandangan Islam soal ini? Apakah mentraktir dibolehkan, bahkan dianjurkan?

Ternyata dalam Islam, mentraktir atau menjamu orang lain termasuk amalan mulia. Bahkan bisa bernilai sedekah jika dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai adab syariat. Rasulullah SAW sendiri sangat menganjurkan umatnya untuk saling memberi dan memuliakan tamu.

Bukan sekadar tradisi, tapi sunnah yang dianjurkan.

Mentraktir termasuk dalam kategori sedekah dan ikram al-dhuyuf (memuliakan tamu). Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa memberi makan orang lain juga termasuk sedekah. Bahkan, sesuatu yang sederhana seperti menawarkan air minum kepada orang lain bisa bernilai ibadah di sisi Allah.

Dengan kata lain, mentraktir bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan amalan sunnah yang berpahala jika dilakukan dengan niat yang ikhlas.

Ada adab, bukan sekadar bayar tagihan

Meski berpahala, Islam memberi batasan dan panduan agar mentraktir tetap berada dalam koridor syariat. Salah satunya adalah niat. Jika niatnya untuk pamer atau ingin disebut dermawan, maka niat ini bisa menghapus pahala bahkan menjadi riya yang tercela.

Selain itu, penting pula untuk:

  • Tidak memaksakan diri hingga berutang demi mentraktir
  • Memastikan makanan yang ditraktir halal
  • Tidak mengungkit-ungkit traktiran
  • Tidak menjadikan traktiran sebagai ajang pamer sosial

Tidak salah saling traktir, asal ikhlas

Dalam praktiknya, saling traktir juga diperbolehkan. Misalnya hari ini seorang teman mentraktir, lalu di lain waktu teman yang lain gantian. Selama tidak dibuat menjadi syarat atau beban, dan masing-masing ikhlas, maka hal ini tetap diperbolehkan.

Namun jika traktiran menjadi sarana gengsi, kompetisi, atau ajang pembuktian status sosial, maka nilai ibadahnya bisa sirna.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung nilai berbagi dan kasih sayang antar sesama. Mentraktir teman, keluarga, atau kolega bisa menjadi ladang pahala jika dilakukan dengan tulus, tanpa niat pamer, dan tanpa unsur haram di dalamnya.

Satu traktiran mungkin sederhana, tapi bisa menjadi pengikat silaturahmi, pelembut hati, dan bukti syukur kepada Allah atas rezeki yang dititipkan. Maka jika ada rezeki berlebih, tak ada salahnya berbagi. Asal niatnya lurus, traktiran pun bisa jadi jalan ke surga.

Keywords :