Ilustrasi marah
Teras muslim.com - Dalam Islam, menjaga lisan adalah salah satu aspek terpenting dari akhlak seorang Muslim. Lisan yang tidak dijaga dapat menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai macam dosa, termasuk berkata kasar dan menghina orang lain, terlebih jika menggunakan nama-nama binatang sebagai bentuk cercaan atau ejekan. Meski sering dianggap sepele dalam pergaulan sehari-hari, perbuatan ini memiliki dampak besar dalam pandangan syariat dan berpotensi menghancurkan pahala amal saleh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seseorang mengucapkan satu kalimat yang tidak dipikirkan bahayanya, yang karenanya ia tergelincir ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kata-kata kasar, makian, atau hinaan yang keluar dari lisan bisa menjadi penyebab turunnya murka Allah, bahkan lebih parah daripada banyak dosa yang dilakukan oleh anggota tubuh lainnya. Lisan adalah cerminan hati, dan lisan yang suka menghina menandakan adanya penyakit dalam hati, seperti kesombongan, iri hati, atau rasa superior yang menyesatkan.
Hukum Menghina Orang dengan Nama Binatang
Menghina sesama manusia dengan menyamakan mereka dengan binatang seperti “anjing,” “babi,” “monyet,” atau binatang buas lainnya adalah haram dan termasuk dalam dosa besar jika disertai dengan niat merendahkan dan menyakiti. Hal ini bertentangan dengan prinsip ta’dzim al-insan (memuliakan manusia), sebagaimana Allah nyatakan dalam Al-Qur`an:
“Dan sungguh telah Kami muliakan anak-anak Adam...”
(QS. Al-Isra’: 70)
Menghina dengan menyamakan seseorang dengan binatang juga sering kali mengandung unsur ghibah, namimah (adu domba), dan ujub, yang semuanya adalah dosa yang sangat dikecam.
Beberapa Konsekuensi Dosa dari Berkata Kasar dan Menghina
“Bukanlah seorang mukmin itu orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata kotor, dan berkata keji.”
(HR. Tirmidzi, hasan sahih)
Menjaga Lisan dan Bertaubat
Islam memberikan panduan jelas dalam mengontrol ucapan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika seseorang terlanjur berkata kasar atau menghina orang lain, taubat nasuha dan meminta maaf kepada orang yang dihina adalah langkah wajib. Selain itu, memperbanyak istighfar, zikrullah, dan membiasakan berkata baik akan membantu dalam mengobati lisan dan hati dari kebiasaan buruk.
Menghina dan berkata kasar, terutama dengan menyamakan manusia dengan binatang, bukanlah perbuatan ringan dalam Islam. Ia adalah cermin dari hati yang lalai dan lisan yang tidak dijaga. Islam sebagai agama rahmat mengajarkan kita untuk berbicara lembut, menjaga kehormatan sesama, dan menjauhi segala bentuk ucapan yang menyakitkan. Maka, menjaga lisan bukan hanya soal etika, tapi juga indikator keimanan yang sejati.