
Ilustrasi foto marah dan sedih
Terasmuslim.com - Daya ingat manusia terhadap kesalahan orang lain sering kali bekerja lebih tajam dibandingkan saat menilai kekhilafan diri sendiri.
Secara psikologis, otak manusia cenderung mengalami negativity bias, di mana ingatan tentang keburukan orang lain tertanam lebih kuat daripada kebaikannya.
Dalam pandangan Islam, kecenderungan ini merupakan bentuk penyakit hati yang muncul akibat kurangnya kesadaran untuk bertafakur dan mengintrospeksi diri.
Rasulullah SAW telah menggambarkan fenomena ini secara presisi melalui sebuah hadis yang sangat relevan dengan tabiat manusia.
"Kamu melihat kotoran kecil di mata saudaramu, tetapi kamu lupa pada kayu besar yang ada di matamu sendiri." (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).
Hadis tersebut mengisyaratkan betapa tajamnya pandangan kita terhadap aib sesama, namun begitu buta terhadap cacat yang ada di depan mata.
Ego dan sifat sombong dalam diri kerap menjadi tirai tebal yang menutupi ingatan akan dosa-dosa pribadi.
Al-Qur`an secara tegas melarang dorongan untuk selalu mencari-cari kesalahan orang lain serta berprasangka buruk terhadap mereka.
Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..." (QS. Al-Hujurat [49]: 12).
Ayat ini mengingatkan bahwa fokus mengejar aib sesama hanya akan mengikis kebaikan dan merusak kebersihan hati seorang muslim.
Ketika seseorang sibuk mencatat keburukan orang lain, ingatan fisiknya terdistraksi dari memohon ampunan atas dosanya sendiri.
Secara ilmiah dan spiritual, mekanisme pertahanan diri membuat manusia cenderung memaklumi kesalahan pribadi namun menghakimi kesalahan orang lain.
Padahal, standar keimanan yang tinggi justru menuntut seorang muslim untuk lebih sibuk memperbaik cacat dirinya sendiri.
Rasulullah SAW bersabda: "Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain." (HR. Al-Bazzar).
Melatih diri untuk senantiasa bermuhasabah adalah kunci agar ingatan kita lebih fokus pada perbaikan pribadi ketimbang menilai keburukan sesama.