
Ilustrasi foto bulan Muharram
Terasmuslim.com - Bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia yang memiliki kedudukan agung dalam kalender peradaban Islam.
Namun, di tengah masyarakat kita sering kali muncul berbagai adat dan ritual khusus yang sebenarnya tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Salah satu kekeliruan yang populer adalah keyakinan bahwa Muharram atau bulan Suro merupakan bulan keramat yang penuh dengan kesialan.
Banyak orang akhirnya takut menggelar pernikahan atau membangun rumah karena mitos akan datangnya petaka di bulan ini.
Islam secara tegas melarang keyakinan thiyarah atau merasa sial karena waktu, tempat, ataupun hewan tertentu.
Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits shahih untuk mengikis habis keyakinan jahiliyah tersebut.
"Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada ramalan buruk (kesialan), tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Shafar." (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain mitos kesialan, sebagian masyarakat juga melakukan ritual memandikan pusaka atau larung sesaji yang menjurus pada perbuatan syirik.
Allah SWT telah mengingatkan dengan keras agar umat Islam menjauhi segala bentuk peribadatan yang menyekutukan-Nya.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisa: 48)
Ada pula tradisi merayakan malam satu Muharram dengan melakukan pawai obor serta konvoi yang justru mengganggu ketertiban umum.
Bahkan, sebagian kelompok mempraktikkan ritual menyiksa diri dan meratap secara berlebihan untuk memperingati kematian cucu Nabi, Husain bin Ali.
Tindakan meratap dan melukai tubuh tersebut jelas dilarang karena bertentangan dengan prinsip sabar saat menghadapi musibah.
"Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyah." (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, marilah kita memurnikan ibadah di bulan Muharram ini hanya dengan amalan yang disyariatkan, seperti memperbanyak puasa sunnah Asyura.
TAGS : tradisi Muharram sunnah mitos bulan suro