Ilustrasi foto tahun baru dan muhasabah diri
Terasmuslim.com - Saat dunia merayakan pergantian kalender dengan kemeriahan dan harapan duniawi, seorang Muslim justru diajak untuk merenung. Bertambahnya tahun berarti berkurangnya jatah usia dan semakin dekatnya perjumpaan dengan Allah. Al-Qur’an mengingatkan: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185). Ayat ini menegaskan bahwa waktu yang berlalu tidak pernah kembali, dan setiap detik mendekatkan manusia kepada kematian dan hari perhitungan.
Pergantian tahun seharusnya menjadi momen muhasabah, bukan sekadar perayaan. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18). Seorang Muslim melihat kalender baru sebagai catatan amal yang kosong, sementara lembaran lama akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya. Dalam hadits disebutkan: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menjadikan pergantian waktu sebagai perkara yang menakutkan, karena setiap tahun yang berlalu adalah bukti yang akan bersaksi, apakah diisi dengan ketaatan atau kelalaian.
Karena itu, sikap seorang Muslim dalam menyambut kalender baru adalah memperbaiki diri, bukan larut dalam euforia. Allah berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3). Ayat ini menegaskan bahwa waktu adalah amanah besar. Maka yang lebih “menakutkan” bagi seorang Muslim bukan bertambahnya usia, melainkan jika waktu terus berlalu tanpa iman, amal saleh, dan taubat.