
Ilustrasi orang Ghibah (Foto: Kompasiana.com)
Terasmuslim.com - Perkembangan teknologi digital hari ini telah mengubah lanskap interaksi sosial sekaligus mempermudah manusia dalam berkomunikasi.
Namun, Media Islami mengingatkan bahwa kehadiran media sosial juga membuka lebar pintu kemaksiatan baru yang sering tidak kita sadari.
Salah satu fenomena yang paling memprihatinkan di ruang digital saat ini adalah maraknya aktivitas ghibah yang dikemas sebagai konten hiburan.
Membicarakan aib orang lain di kolom komentar atau grup percakapan kini terasa begitu ringan, padahal dosanya sangat mengerikan di sisi Allah.
Allah Subhanahu wa Ta`ala telah memberikan perumpamaan yang sangat menjijikkan bagi pelaku ghibah di dalam Al-Qur`an Surah Al-Hujurat ayat 12.
"...dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik..." (QS. Al-Hujurat: 12).
Ayat tersebut dengan tegas menggambarkan bahwa bergosip sama saja dengan memakan bangkai saudara kita sendiri yang telah wafat.
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam juga telah mendefinisikan batas yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan ghibah agar umatnya waspada.
Dalam sebuah hadis sahih, beliau menjawab pertanyaan para sahabat mengenai hakikat dari perilaku menggunjing tersebut.
"Ghibah adalah engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang tidak ia sukai." (HR. Muslim).
Di era digital, bahaya ghibah menjadi berlipat ganda karena jejak digital yang ditinggalkan bisa diakses oleh jutaan orang dalam sekejap.
Ketika sebuah aib disebarkan dan menjadi viral, maka dosa jariyah akan terus mengalir kepada orang yang pertama kali mengetik dan membagikannya.
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam memberikan peringatan keras tentang hukuman bagi orang-orang yang gemar mencari-cari kesalahan sesama Muslim.
"Barang siapa yang mencari-cari kesalahan saudaranya sesama muslim, maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan Allah akan membuka aibnya di dalam rumahnya sendiri." (HR. Abu Dawud).
Oleh karena itu, sebelum kita membagikan atau mengomentari sebuah rumor di media sosial, mari kita timbang kembali dampak akhiratnya.
Menjaga jemari dari mengetik keburukan orang lain adalah bentuk nyata dari upaya menyelamatkan diri dari kebangkrutan amal di hari kiamat.
Semoga Allah Ta`ala senantiasa menjaga hati dan jemari kita agar hanya digunakan untuk menyebarkan kebaikan serta kedamaian di ruang siber.
TAGS : dosa menggunjing hadis mencari aib bahaya jemari