
Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat menghadiri acara Soft launching Kurikulum Berbasis Cinta, pada Rabu (Foto: kemenag)
Jakarta, Terasmuslim.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai terobosan untuk membentuk karakter peserta didik yang penuh kasih sayang dan jauh dari sifat pembenci.
Dalam peluncuran Belajar Mandiri KBC di Jakarta pada Rabu (22/4), Menag menekankan pentingnya metodologi khusus untuk menciptakan figur yang memiliki dasar kepribadian sebagai pencinta.
Beliau merasa perlu ada pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan agar tidak hanya terpaku pada materi formal.
“Yang kita targetkan adalah bagaimana melahirkan anak-anak didik ataupun mahasiswa-mahasiswa yang punya kultur dan basic pencinta, untuk melahirkan sosok figur yang pencinta, bukan pembenci. Itu memang perlu ada metodologi,” kata Menag.
Kritik utama yang disampaikan Menag adalah kecenderungan sistem pendidikan saat ini yang terlalu menitikberatkan pada kecerdasan intelektual namun seringkali mengabaikan dimensi spiritual.
Ia melihat adanya ketimpangan antara kemampuan membaca realitas dengan sandaran spiritual kepada Sang Pencipta. Menurutnya, potensi diri manusia baru akan maksimal jika kedua aspek tersebut berjalan beriringan secara harmoni.
“Kita hanya iqra, iqra, tapi bismirabbik tenggelam. Justru paralel antara iqra dan bismirabbik itu perlu, karena penggunaan segenap potensi diri kita itu perlu dikerahkan,” ucap Menag.
Dalam penjelasannya, Menag merujuk pada tradisi pesantren yang sejak lama menjaga keseimbangan antara ilmu dan adab melalui ritual penyucian diri serta doa sebelum memulai pelajaran.
Baginya, pemangkasan nilai-nilai spiritual dalam proses belajar modern adalah sebuah kerugian besar bagi pembentukan akhlak.
“Kalau kita di pondok pesantren itu sebelum belajar ada doa, ada syok terapi, termasuk juga berdoa sebelumnya. Celakanya yang digunting itu adalah pensucian dirinya, wudunya, doanya, penghormatannya,” ujar Menag.
Konsep cinta yang diusung dalam KBC ini pun bersifat holistik, di mana setiap materi pelajaran harus mampu menghubungkan siswa dengan nilai-nilai ketuhanan melalui alam semesta.
Menag berpendapat bahwa memisahkan ilmu pengetahuan dari penciptanya adalah sebuah kekeliruan mendasar.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh tenaga pendidik untuk benar-benar meresapi konsep ini agar bisa melahirkan generasi yang lebih santun dan beretika.
“Apapun yang dipelajari itu selalu ada cinta. Cinta kepada siapa? Ya cinta kepada Tuhan. Karena alam ini kan adalah tanda-Nya. Kalau kita bicara tentang alam tidak terintegratif dengan Tuhan maka itu pasti akan sangat keliru,” katanya.
Sebagai penutup, Menag memberikan pesan mendalam kepada para pengajar agar tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara otak namun gersang secara hati.
Ia tidak ingin institusi pendidikan justru melahirkan individu yang kompetitif secara negatif atau bahkan merugikan masyarakat di masa depan.
TAGS : Menteri Agama Nasaruddin Umar Kurikulum Cinta