• KEISLAMAN

Menyikapi Duka, Hukum Meratapi Kesedihan dalam Pandangan Islam

Yahya Sukamdani | Rabu, 02/09/2026
Menyikapi Duka, Hukum Meratapi Kesedihan dalam Pandangan Islam Ilustrasi foto sedih kehilangan

Terasmuslim.com - Kesedihan adalah keniscayaan hidup yang menyapa setiap manusia saat tertimpa musibah.

Islam memahami bahwa air mata yang menetes saat berduka merupakan bentuk kepedulian dan kelembutan hati.

Rasulullah SAW pun menangis ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia sebagai wujud kasih sayang seorang ayah.

Namun, ajaran Islam memberikan batas yang sangat jelas antara rasa sedih yang alami dan perilaku meratapi duka secara berlebihan.

Meratapi kesedihan atau niyahah, seperti menjerit-jerit hingga menyakiti diri sendiri, merupakan perbuatan yang dilarang keras dalam agama.

Larangan tegas ini tertuang dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan jahiliah.”

Perilaku meratapi musibah secara berlebihan mencerminkan sikap ketidakrelaan terhadap ketetapan Allah SWT.

Allah SWT mengingatkan umat-Nya untuk senantiasa bersabar melalui firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah ayat 155–156 yang memberikan kabar gembira bagi hamba-Nya yang bersabar.

Pengucapan Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un saat berduka menegaskan bahwa seluruh ciptaan adalah milik Allah SWT yang akan kembali kepada-Nya.

Selain bersabar, seorang mukmin yang ditimpa musibah dianjurkan menguatkan doa demi melapangkan dada.

Rasulullah SAW juga menjelaskan dalam hadis riwayat Muslim bahwa rasa sakit dan kesedihan seorang muslim dapat menjadi penghapus dosa-dosanya.

Oleh karena itu, meluapkan emosi dengan meratapi nasib secara berkepanjangan hanya akan merusak keimanan dan menguras energi.

Al-Qur`an memberikan penghiburan teguh dalam Surah Al-Insyirah ayat 5–6 bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.

Mengalihkan duka menjadi zikir dan berserah diri pada takdir merupakan jalan utama meraih ketenangan jiwa.

Semoga setiap cobaan yang hadir dapat menjadi penggugur dosa sekaligus peningkat ketakwaan kita di hadapan Allah SWT.