Ilustrasi foto kain kafan dan parfum
Terasmuslim.com - Mus’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu dikenal sebagai pemuda Quraisy yang hidup dalam kemewahan sebelum masuk Islam. Tubuhnya selalu wangi dengan parfum termahal, pakaiannya indah, dan kehidupannya serba cukup. Namun ketika hidayah Islam menyentuh hatinya, ia memilih iman di atas kemewahan dunia. Pilihan ini sejalan dengan firman Allah ﷻ: “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum kerabat, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan rumah-rumah yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24).
Keimanan Mus’ab bin Umair diuji dengan keras. Ibunya yang kaya raya memutuskan seluruh fasilitas hidupnya setelah mengetahui ia masuk Islam. Mus’ab pun hidup sederhana dan penuh kesabaran. Rasulullah ﷺ pernah memandang Mus’ab yang mengenakan pakaian kasar, lalu bersabda mengenang masa lalunya: “Aku pernah melihatnya di Makkah, tidak ada pemuda yang lebih dimanja oleh kedua orang tuanya dan lebih halus pakaiannya daripada dia.” (HR. Ibnu Sa’d). Perubahan hidup ini menunjukkan betapa kuatnya iman yang mengalahkan cinta dunia.
Rasulullah ﷺ kemudian mengutus Mus’ab bin Umair sebagai duta Islam pertama ke Madinah untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Islam kepada kaum Anshar. Melalui dakwahnya, banyak tokoh Madinah masuk Islam, hingga kota itu siap menyambut hijrah Nabi ﷺ. Perjuangan ini sesuai dengan firman Allah ﷻ: “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Fussilat: 33).
Puncak pengorbanan Mus’ab bin Umair terjadi dalam Perang Uhud. Ia gugur sebagai syahid pembawa panji Rasulullah ﷺ. Ketika hendak dikafani, kain yang ada terlalu pendek; jika ditutupkan ke kepala, terbukalah kakinya, dan jika ditutupkan ke kaki, terbukalah kepalanya. Rasulullah ﷺ pun bersabda agar kepalanya ditutup dan kakinya ditutupi dengan daun idzkhir (HR. Bukhari). Kisah ini menjadi bukti nyata sabda Nabi ﷺ: “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim). Mus’ab telah menukar kemewahan dunia dengan kemuliaan abadi di akhirat.