• KEISLAMAN

Gus Baha: Ikhlas Itu Mudah Jika Kita Paham Segalanya Milik Allah

Vaza Diva Fadhillah Akbar | Jum'at, 18/04/2025
Gus Baha: Ikhlas Itu Mudah Jika Kita Paham Segalanya Milik Allah Ilustrasi (Foto: IStockphoto)

Terasmuslim.com - Banyak orang merasa bahwa ikhlas adalah perkara yang sulit dilakukan. Namun, menurut KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, justru sebaliknya ketidakikhlasan dalam berbuat baik merupakan hal yang ganjil jika seseorang benar-benar memahami siapa pemilik sejati dari segala yang ada di dunia ini.

Dalam pengajian yang dikutip dari kanal YouTube @Menikmatihalal, Selasa (15/04/2025), Gus Baha mengajak umat untuk merenung lebih dalam tentang hakikat kepemilikan. Ia menyampaikan bahwa semua yang manusia miliki—baik ilmu, harta, maupun kekuatan fisik adalah pemberian dari Allah. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk merasa berat hati saat harus berbagi atau beramal.

"Kalau yakin ilmu dan harta itu dari Allah, mestinya memberi itu ringan. Ikhlas itu sederhana," ujar Gus Baha dengan gaya bicaranya yang khas, tenang tapi menyentuh logika.

Menurut beliau, banyak orang terjebak dalam ilusi kepemilikan. Mereka merasa bahwa segala sesuatu adalah milik pribadi, padahal semua itu sejatinya hanyalah amanah dari Allah SWT. Kesalahan persepsi inilah yang membuat seseorang enggan berbagi dan sulit ikhlas.

Dengan nada santai namun penuh sindiran halus, Gus Baha mengingatkan bahwa beramal tanpa keikhlasan adalah bentuk ketidaksadaran terhadap hakikat tauhid. Ia menekankan bahwa menyadari Allah sebagai pemilik mutlak akan memudahkan hati untuk memberi tanpa pamrih.

Beliau juga mengungkapkan contoh sederhana mengenai orang yang mengklaim bahwa sebidang tanah adalah miliknya. "Kamu merasa tanah itu milikmu karena beli dari orang lain. Tapi pernahkah kamu beli langsung dari Allah? Tidak, kan?" ujar Gus Baha, mengajak jamaah berpikir lebih jernih.

Pernyataan ini memperjelas bahwa apa yang dianggap milik dalam pandangan duniawi sebenarnya hanyalah sistem yang berlaku di antara makhluk, bukan dari sisi ketuhanan.

Gus Baha juga menegaskan bahwa dalam dunia tasawuf, rasa memiliki adalah awal dari kesalahan spiritual. Karena seseorang tidak akan mungkin benar-benar memiliki sesuatu yang ia sendiri tidak bisa ciptakan.

“Kalau kamu tidak bisa menciptakan, bagaimana kamu bisa merasa memiliki? Dari sini saja sudah jelas bahwa segalanya titipan,” tambahnya.

Dengan pemahaman seperti ini, lanjut Gus Baha, akan timbul kesadaran untuk melepaskan ego dan beramal semata-mata karena Allah. Ia menyebut bahwa ketidakikhlasan justru menunjukkan kurangnya pemahaman tentang siapa pemberi nikmat sesungguhnya.

"Sudah dipinjami, masih pelit. Sudah dititipi, masih enggan memberi. Itu aneh," tutur Gus Baha, menyindir halus mereka yang merasa berat saat berbuat baik.

Ia mengingatkan bahwa ikhlas bukan perkara berat jika seseorang benar-benar bertauhid. Jika sadar bahwa semuanya berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka memberi dan berbagi menjadi sesuatu yang ringan dilakukan.

Keikhlasan ini, menurut Gus Baha, berlaku tidak hanya pada harta benda, tetapi juga dalam berbagi ilmu, perhatian, waktu, dan tenaga kepada orang lain.

Dengan gaya ceramah yang membumi, Gus Baha menekankan bahwa tidak perlu jadi ahli tarekat untuk ikhlas. Cukup dengan menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah, maka hati akan lebih ringan untuk memberi.

Nasihat ini menjadi pengingat agar setiap Muslim terus memperbaiki niat dalam beramal. Karena dengan landasan tauhid yang lurus, ikhlas bukan hanya mungkin, tapi menjadi keniscayaan.