KEISLAMAN

5 Sikap yang Dianjurkan Rasulullah Ketika Menghadapi Musibah

Vaza Diva Fadhillah Akbar| Rabu, 22/07/2026
Musibah merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia. Ilustrasi - ini sikap yang diajarkan Nabi Muhammad saat tertimpa musibah (Foto: Pexels/Necati Ömer Karpuzoğlu)

Jakarta, Terasmuslim.com - Musibah merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia.

Bentuknya beragam, mulai dari kehilangan orang yang dicintai, sakit, kegagalan, bencana alam, hingga kesulitan ekonomi.

Dalam Islam, musibah bukan semata-mata menjadi pertanda keburukan, tetapi juga dapat menjadi ujian keimanan, penghapus dosa, sekaligus jalan untuk meningkatkan derajat seorang hamba.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan mengenai bagaimana seorang muslim seharusnya bersikap ketika menghadapi musibah.

Baca juga :

Sikap-sikap tersebut tidak hanya membantu seseorang tetap tenang, tetapi juga mendatangkan pahala dan rahmat dari Allah SWT.

Berikut lima sikap yang dianjurkan Rasulullah SAW saat menghadapi musibah.

1. Bersabar dan Tidak Berputus Asa

Sikap pertama yang paling utama adalah bersabar. Dalam Al-Qur`an, Allah SWT berkali-kali memerintahkan umat Islam agar bersabar ketika menghadapi ujian kehidupan.

Allah SWT berfirman:

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 155)

Kesabaran bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan menahan diri dari keluh kesah yang berlebihan, tetap menjalankan kewajiban, dan percaya bahwa Allah SWT memiliki rencana terbaik.

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, karena setiap keadaannya adalah baik baginya. Ketika mendapatkan nikmat ia bersyukur, dan ketika tertimpa musibah ia bersabar sehingga keduanya menjadi kebaikan baginya. (HR. Muslim)

2. Mengucapkan Istirja`

Saat menerima musibah, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk mengucapkan kalimat istirja`:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali."

Kalimat ini merupakan pengakuan bahwa seluruh kehidupan adalah milik Allah SWT. Dengan mengucapkannya, seorang muslim diingatkan agar menerima ketetapan-Nya dengan lapang dada dan penuh keikhlasan.

Rasulullah SAW juga menganjurkan doa berikut:

"Ya Allah, berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah dengan yang lebih baik." (HR. Muslim)

3. Bertawakal Setelah Berikhtiar

Musibah tidak boleh membuat seseorang berhenti berusaha. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.

Jika musibah berupa penyakit, seorang muslim dianjurkan berobat. Jika mengalami kesulitan ekonomi, ia tetap berusaha mencari rezeki yang halal. Setelah segala upaya dilakukan, barulah menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

"...Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran: 159)

Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan meyakini bahwa hasil terbaik berada di tangan Allah SWT.

4. Memperbanyak Doa dan Istighfar

Musibah menjadi salah satu momentum terbaik untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mencontohkan agar umat Islam memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur`an, serta memohon ampun melalui istighfar.

Dalam berbagai hadis dijelaskan bahwa doa merupakan senjata orang mukmin. Ketika menghadapi kesulitan, seorang muslim dianjurkan memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT karena hanya Dia yang mampu menghilangkan kesusahan.

Istighfar juga menjadi amalan yang dianjurkan karena setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Dengan memperbanyak memohon ampun, hati menjadi lebih tenang dan hubungan dengan Allah semakin kuat.

5. Berbaik Sangka kepada Allah (Husnuzan)

Sikap terakhir yang diajarkan Rasulullah SAW adalah selalu berbaik sangka kepada Allah SWT. Seorang muslim tidak boleh langsung menganggap musibah sebagai tanda kebencian Allah.

Bisa jadi musibah menjadi cara Allah menghapus dosa, mengangkat derajat, atau menghindarkan seseorang dari keburukan yang lebih besar.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman:

"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, menjaga prasangka baik kepada Allah merupakan bagian dari keimanan yang harus dipelihara dalam setiap keadaan.

TAGS : Info Keislaman Rasulullah SAW Tertimpa Musibah Sikap Nabi Muhammad

Terkini