
Ilustrasi foto membaca Al quran
Terasmuslim.com - Seorang muslim tidak seharusnya merasa aman ketika mulai malas shalat, berat berdoa, lalai berdzikir, atau enggan membaca Al-Qur’an. Kondisi ini bukan perkara sepele, karena ibadah adalah ruh kehidupan hati. Allah Ta‘ala berfirman: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5). Ayat ini menunjukkan bahwa kelalaian dalam ibadah merupakan peringatan serius, meski seseorang masih terlihat “baik-baik saja” secara lahiriah.
Banyak orang tidak menyadari bahwa salah satu bentuk hukuman yang paling halus adalah dicabutnya rasa nikmat dalam ketaatan. Hati menjadi berat untuk mendekat kepada Allah, sementara maksiat terasa ringan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba terhalang dari rezeki (kebaikan) karena dosa yang ia lakukan.” (HR. Ahmad). Para ulama menjelaskan bahwa rezeki di sini tidak hanya harta, tetapi juga rezeki iman, kekhusyukan, dan kelezatan ibadah.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa berpaling dari dzikir kepada Allah membawa dampak buruk bagi kehidupan hati. Allah Ta‘ala berfirman: “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124). Kehidupan sempit ini sering kali tidak tampak dalam bentuk materi, tetapi berupa kegelisahan batin, hilangnya ketenangan, dan rasa hampa meski dunia terasa cukup.
Karena itu, ketika seorang hamba mulai merasakan futur dalam ibadah, hendaknya segera kembali kepada Allah dengan taubat, istighfar, dan memperbanyak doa. Kalimat Hasbunallaahu wa ni‘mal wakiil adalah bentuk penyerahan diri dan pengakuan bahwa hanya Allah sebaik-baik penolong. Siapa pun yang menyadari kelemahannya lalu bersandar kepada Allah, niscaya akan dikembalikan rasa manis dalam ketaatan dan dihidupkan kembali hatinya dengan cahaya iman.