
Ilustasi mimpi buruk (Foto: SHUTTERSTOCK)
Terasmuslim.com - Dalam Islam, tidur tidak hanya dipandang sebagai proses biologis untuk mengistirahatkan tubuh, melainkan juga memiliki sisi spiritual yang dalam. Salah satu aspek yang menonjol adalah mimpi, yang diyakini sebagai sarana komunikasi ilahi saat manusia berada dalam keadaan pasrah total.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih dikenal sebagai Gus Baha, dalam salah satu ceramahnya menyampaikan pandangan menarik tentang tidur dan kaitannya dengan kondisi ruhani seseorang. Ulama asal Rembang ini menjelaskan bahwa saat manusia tidur, ia melepaskan seluruh kendali atas dirinya. Dalam keadaan inilah, sepenuhnya ia berada dalam kuasa Allah SWT.
Menurut Gus Baha, tidur dalam ajaran Islam tidak hanya soal memejamkan mata, tetapi juga harus disertai dengan adab dan tuntunan sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Misalnya, berwudhu sebelum tidur, membaca wirid dan doa, serta tidur dalam posisi menghadap kiblat, layaknya jenazah yang telah kembali kepada Sang Khalik.
“Jika seseorang tidur dengan memperhatikan adab tersebut, maka mimpi yang hadir dapat menjadi media spiritual yang sarat makna. Karena ketika tidur, manusia tidak lagi bisa memilih atau mengarahkan pikirannya; semuanya berada di tangan Allah,” tutur Gus Baha dalam ceramah yang diunggah ke kanal YouTube @takmiralmukmin pada Jumat (23/05/2025).
Dengan gaya bicaranya yang sederhana namun menyentuh, Gus Baha mengingatkan pentingnya amalan seperti dzikir dan doa sebelum tidur. Menurutnya, ini bukan hanya rutinitas spiritual, tetapi bentuk kepasrahan dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan.
Di antara wirid yang dianjurkan sebelum tidur adalah tasbih Subhanallah 33 kali, tahmid Alhamdulillah 33 kali, dan takbir Allahu Akbar 33 kali. Wirid ini merupakan ijazah langsung dari Nabi Muhammad SAW kepada putrinya, Sayyidah Fatimah.
“Tujuan utama dari wirid itu bukan sekadar menenangkan hati sebelum tidur, tapi juga agar kita menyerahkan seluruh diri kita kepada Allah. Dalam keadaan pasrah seperti itu, mimpi bisa menjadi bentuk komunikasi dari-Nya,” terang Gus Baha.
Ia juga menambahkan bahwa posisi tidur yang benar menyerupai posisi jenazah menunjukkan bahwa tidur adalah latihan kepasrahan, di mana sistem saraf kita berhenti sementara dan kontrol sepenuhnya ada pada Sang Pencipta.
Islam sangat memperhatikan aktivitas manusia, bahkan yang terlihat sepele seperti tidur. Dalam Al-Qur’an sendiri, mimpi beberapa kali dijadikan sebagai sarana penyampaian wahyu, seperti yang dialami oleh Nabi Yusuf AS.
Para ulama klasik pun banyak yang menulis kitab tentang tafsir mimpi, karena mereka memandang bahwa mimpi bisa menjadi tanda atau peringatan dari Allah. Meski begitu, tidak semua mimpi berasal dari sumber ilahi. Karena itu, diperlukan kebijaksanaan dalam menyikapi dan menafsirkannya.
Gus Baha mengingatkan bahwa mimpi yang membawa nilai hanya akan hadir bila didahului dengan ibadah dan amal shalih sebelum tidur. Tidur dalam keadaan lalai, apalagi dalam kondisi maksiat, justru bisa menghadirkan mimpi yang berasal dari bisikan hawa nafsu atau godaan setan.
Salah satu doa yang dianjurkan Nabi menjelang tidur adalah: Bismika Allahumma ahya wa amut (Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan mati). Doa ini mencerminkan sikap totalitas dalam berserah diri kepada Tuhan.
Lebih lanjut, Gus Baha menegaskan pentingnya menjaga kesucian hati dan kebersihan fisik sebelum tidur. Ia menyampaikan bahwa tidur bukanlah akhir dari kesadaran, melainkan awal dari keterhubungan ruhani antara manusia dan Allah.
Sebaliknya, orang yang tidur dalam kondisi lalai, tanpa mengingat Allah, berpotensi mendapatkan mimpi yang tidak bermakna atau bahkan bersumber dari gangguan setan. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan suasana batin yang baik sebelum tidur.
Mimpi, menurut Gus Baha, adalah refleksi dari kondisi spiritual seseorang. Semakin bersih jiwa dan amalnya, semakin besar kemungkinan mimpinya mengandung pesan yang bermakna. Namun, ia mengingatkan bahwa mimpi tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan hidup. Tetap harus ada pertimbangan akal sehat dan tuntunan syariat.
TAGS : Islam Mimpi Biologis Tidur