Ilustrasi foto ensiklopedia fikih Nawawi
Terasmuslim.com - Kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab merupakan magnum opus atau karya monumental Imam An-Nawawi yang menjadi salah satu ensiklopedia fikih terbesar dalam mazhab Syafi`i.
Kitab ini disusun sebagai penjelasan mendalam atas kitab Al-Muhadzdzab karya Imam Asy-Syirazi dengan menyajikan perbandingan mazhab yang sangat komprehensif.
Keutamaan kitab ini terletak pada penyajian metodologi riset hukum Islam yang ilmiah, objektif, serta ditopang oleh argumentasi dalil yang sangat kuat.
Sesuai dengan arahan ilahi dalam Surah An-Nahl ayat 43 untuk senantiasa menuntut ilmu kepada ahlinya:
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).
Pembahasan fikih ibadah diawali dengan analisis mendalam mengenai hukum bersuci dan kebersihan jiwa maupun raga.
Pentingnya kesucian diri ini selaras dengan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Kesucian itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim).
Imam An-Nawawi mengupas tuntas setiap rincian hukum shalat dengan menguji kualitas keabsahan riwayat hadis secara rinci.
Perintah mendirikan shalat secara konsisten berlandaskan pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 43:
“Dan tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43).
Rincian mengenai pengelolaan harta melalui zakat dan sedekah dipaparkan untuk menguatkan pilar keadilan sosial umat.
Rasulullah SAW memberikan penegasan tentang sifat pembersih dari ibadah harta ini dalam hadis riwayat At-Tirmidzi:
“Sedekah itu dapat memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi).
Syariat puasa, haji, hingga muamalah harta benda dikaji menggunakan pendekatan keilmuan yang sangat sistematis dan mendalam.
Setiap penetapan hukum hukumnya didasarkan pada landasan Al-Qur`an, As-Sunnah, ijmak para ulama, serta qiyas yang shahih.
Meskipun Imam An-Nawawi wafat sebelum menyelesaikannya, Al-Majmu’ tetap dilanjutkan oleh Imam As-Subki dan Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muti`i.
Hingga hari ini, Al-Majmu’ menjadi rujukan utama bagi para mufti, akademisi, dan peneliti hukum Islam di seluruh dunia.