• KEISLAMAN

Hidup di Zaman Fitnah

Yahya Sukamdani | Selasa, 27/01/2026
Hidup di Zaman Fitnah Ilustrasi wanita akhir zaman

Terasmuslim.com -  Zaman fitnah telah diisyaratkan Rasulullah SAW sebagai masa penuh kekacauan, kebingungan, dan ujian keimanan. Fitnah tidak hanya berupa kekerasan, tetapi juga syubhat (kerancuan pemikiran), syahwat, serta derasnya informasi tanpa tabayyun. Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang kepada manusia masa fitnah, orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri…” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kehati-hatian dan pengendalian diri menjadi sikap utama seorang Muslim.

Sikap pertama yang harus diambil umat Islam adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar. Allah berfirman: “Jika kamu berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul…” (QS. An-Nisa: 59). Di tengah banjir opini dan narasi yang saling bertabrakan, Al-Qur’an menjadi kompas kebenaran yang menuntun umat agar tidak tersesat oleh arus fitnah zaman.

Selain itu, menuntut ilmu dan bersikap tabayyun menjadi benteng penting. Allah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti…” (QS. Al-Hujurat: 6). Di era media sosial, menyebarkan informasi tanpa verifikasi dapat menjadikan seseorang bagian dari fitnah itu sendiri. Muslim dituntut cerdas, selektif, dan bertanggung jawab dalam menerima serta menyampaikan berita.

Sikap berikutnya adalah memperbanyak ibadah, sabar, dan menjaga akhlak. Rasulullah SAW bersabda: “Beribadah di masa fitnah seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah di zaman sulit memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Ketika maksiat dianggap biasa dan kebenaran dipandang asing, istiqamah dalam ibadah menjadi tanda kekuatan iman.

Terakhir, umat Islam diperintahkan untuk menjaga persatuan dan menjauhi permusuhan yang sia-sia. Allah berfirman: “Berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103). Di tengah fitnah, adab dalam berbeda pendapat, doa, dan tawakal menjadi kunci keselamatan. Zaman boleh rusak, tetapi iman dan akhlak seorang Muslim harus tetap terjaga hingga akhir hayat.