Ilustrasi - orang yang sedang diganggu (Foto: Ist)
Terasmuslim.com - Allah SWT memerintahkan manusia untuk memilih kata-kata yang baik ketika berbicara. “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS Al-Isra’: 53). Ayat ini tidak hanya menekankan pentingnya berbicara lembut, tetapi juga menjelaskan alasan mengapa hal itu penting: “Sesungguhnya setan menimbulkan perselisihan di antara mereka.” Ini menunjukkan bahwa ucapan yang tidak dijaga dapat menjadi pintu masuk setan untuk menebar konflik dan prasangka buruk.
Dalam banyak hadis, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa setan bekerja keras menimbulkan kekacauan dalam hubungan antar manusia. Salah satu caranya adalah dengan memelintir makna ucapan sehingga orang yang mendengarnya menjadi suudzon atau salah paham. Dalam riwayat Bukhari, disebutkan bahwa setan “mengalir dalam tubuh manusia seperti aliran darah,” menggambarkan betapa mudahnya dia membisikkan prasangka buruk, memperkeruh kata-kata, dan menambah bumbu keburukan agar orang saling merasa tersinggung.
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Perintah ini menunjukkan bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari lisannya. Ketika kita menjaga kata-kata, kita sedang menutup pintu bagi setan untuk memperkeruh keadaan. Ucapan yang baik, jelas, dan tidak memancing salah tafsir akan menjaga hubungan sesama muslim tetap harmonis dan jauh dari prasangka buruk.
Islam mengajarkan agar manusia selalu husnudzon dan tidak mudah menafsirkan ucapan orang lain secara negatif. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS Al-Hujurat: 12). Dengan mengucapkan perkataan terbaik dan berhati-hati dalam menyampaikan pesan, kita membantu diri sendiri dan orang lain terhindar dari salah paham, ketersinggungan, dan suudzon yang menjadi celah permainan setan.