• KEISLAMAN

Menunduk di Hadapan Ulama, Adab atau Pengagungan Berlebihan?

Yahya Sukamdani | Selasa, 02/12/2025
Menunduk di Hadapan Ulama, Adab atau Pengagungan Berlebihan? Ilustrasi menghormati ulama

Terasmuslim.com - Islam memerintahkan umatnya untuk menghormati para ulama karena mereka pewaris para nabi. Rasulullah SAW bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud). Namun, penghormatan tersebut tetap berada dalam batasan syariat. Allah SWT menegaskan bahwa segala bentuk pengagungan tidak boleh sampai menyerupai peribadatan kepada manusia. “Dan janganlah kamu bersujud kepada matahari atau bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah.” (QS Fussilat: 37). Ayat ini menunjukkan bahwa bentuk penghormatan tidak boleh menyerupai ibadah, termasuk menunduk berlebihan hingga menyerupai sujud.

Dalam tradisi keilmuan, menunduk sedikit sebagai tanda hormat dapat dipahami sebagai adab selama tidak menyerupai rukuk atau sujud. Namun, Rasulullah SAW melarang sikap yang terlalu mengagungkan manusia. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW ditanya tentang seseorang yang membungkuk kepada orang lain, beliau menjawab: “Tidak boleh.” (HR. Tirmidzi). Dari sini terlihat bahwa menunduk yang berlebihan hingga membungkukkan badan bukanlah adab yang dibenarkan; bahkan bisa mengarah pada bentuk pengagungan yang tidak sesuai ajaran Islam.

Islam mengajarkan bahwa penghormatan sejati kepada ulama terletak pada cara kita mendengarkan ilmu, mengamalkannya, dan tidak meremehkan nasihat. Allah berfirman, “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kalian.” (QS Al-Mujadilah: 11). Ayat ini menekankan bahwa kemuliaan ulama datang dari ilmu, sehingga adab terhadap mereka pun mestinya bersifat ilmiah: sopan bertanya, tidak memotong pembicaraan, dan menjaga kehormatan mereka. Gestur fisik bukanlah ukuran utama adab.

Sikap menghormati yang berlebihan dapat mengarah pada kultus individu, sesuatu yang tegas dilarang dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa putra Maryam.” (HR. Bukhari). Jika Nabi saja melarang pengagungan berlebih, apalagi kepada ulama. Karena itu, menunduk terlalu dalam atau menempatkan ulama seolah memiliki sifat suci bisa menjerumuskan seseorang pada sikap tidak proporsional antara hormat dan ibadah.