Ilustrasi - raudhah atau taman surga (Foto: Ist)
Jakarta, Terasmuslim.com - Bagi umat Islam, surga adalah tempat balasan tertinggi yang penuh kenikmatan abadi. Namun, pernahkah terlintas pertanyaan, yakni berapa lama satu hari di surga? Apakah sama seperti di dunia, ataukah memiliki ukuran waktu yang berbeda?
Dalam Al-Qur`an, Allah SWT menjelaskan bahwa waktu di akhirat tidak sama dengan waktu di dunia. Di sana, hitungan hari dan tahun tidak bisa disamakan dengan ukuran manusia di bumi.
Allah SWT berfirman dalam surah As-Sajdah ayat 5:
يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. As-Sajdah: 5)
Ayat ini menggambarkan bahwa satu hari di sisi Allah SWT setara dengan seribu tahun di dunia. Ini menunjukkan bahwa konsep waktu di alam akhirat sangat berbeda dari kehidupan duniawi yang kita kenal.
Para ulama menafsirkan bahwa waktu di surga bersifat abadi. Artinya, kenikmatan di sana tidak mengenal batas atau hitungan waktu sebagaimana di dunia. Mereka yang masuk surga akan hidup kekal, menikmati segala kenikmatan yang tidak pernah habis dan tidak pernah membosankan.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Kahfi ayat 108:
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا
“Mereka kekal di dalamnya, dan mereka tidak ingin berpindah darinya.” (QS. Al-Kahfi: 108)
Makna “kekal” dalam ayat ini menegaskan bahwa penghuni surga tidak akan mati, tidak menua, dan tidak pernah bosan. Segala bentuk waktu di surga adalah kenikmatan tanpa akhir.
Hal ini menggambarkan bahwa waktu di akhirat mengikuti keadaan dan nasib seseorang, bagi orang beriman, waktu menjadi anugerah; bagi orang durhaka, waktu menjadi siksaan.
Jadi, berapa lama satu hari di surga? Jawabannya: tidak terukur dengan waktu dunia. Satu hari di sisi Allah bisa seperti seribu tahun di bumi, bahkan lebih. Namun bagi penghuni surga, waktu bukan lagi hitungan, melainkan keabadian yang penuh kedamaian dan kenikmatan.
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman surga dan kenikmatan, mereka bersenang-senang dengan apa yang diberikan Tuhan mereka.” (QS. At-Tur: 17–18)