Ilustrasi foto belajar ilmu Islam
Terasmuslim.com - Istilah Wahabi merujuk pada gerakan dakwah yang dihubungkan dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (1703–1792 M), seorang ulama dari Najd, Arab Saudi. Gerakan ini muncul pada abad ke-18 dengan tujuan mengembalikan umat Islam kepada kemurnian tauhid dan menjauhkan diri dari praktik syirik, bid’ah, serta khurafat. Gerakan tersebut berlandaskan firman Allah ﷻ:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.”
(QS. An-Nahl: 36)
Ayat ini menjadi dasar dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab untuk menegakkan tauhid dan menghapus segala bentuk penyimpangan dalam ibadah.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyeru umat agar meneladani Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam beragama, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis ini, beliau menekankan pentingnya kembali kepada ajaran salafus shalih, yaitu pemahaman Islam pada masa awal yang murni dari tambahan-tambahan yang tidak berdasar pada dalil syar’i. Karena ketegasan dakwahnya dalam menolak praktik penyembahan kubur dan tawassul yang berlebihan, sebagian pihak kemudian menyebut pengikutnya dengan istilah “Wahabi”, meski beliau sendiri tidak pernah menamakan gerakannya demikian.
Gerakan dakwah ini kemudian menyebar luas melalui kerja sama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dengan penguasa lokal, Muhammad bin Saud, yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Dalam pandangan Islam, ajakan untuk kembali kepada tauhid bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari misi para nabi dan rasul. Karena itu, gerakan yang dikenal sebagai “Wahabi” sejatinya berakar pada upaya menegakkan ajaran Islam murni sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, bukan aliran baru dalam Islam.