Ilustrasi Kisah Pasukan Gajah Takluk oleh Burung dari Langit (Foto: Alsahwah)
Terasmuslim.com - Tahun itu, langit seolah sedang mengirimkan pesan. Di San’a, Yaman, gubernur bernama Abrahah membangun sebuah gereja megah, al-Qullais, sebagai tandingan Ka’bah. Ambisinya cukup besar: mengalihkan ibadah manusia dari Makkah ke gerejanya.
Namun rencananya dihina. Seorang dari suku Arab menyelinap ke dalam gereja dan mengotorinya dengan kotoran. Abrahah murka. Ia membalas dengan pasukan besar yang dipimpin gajah-gajah—sesuatu yang belum pernah dilihat bangsa Arab sebelumnya.
Mereka melintasi Hijaz dengan kekuatan penuh. Di barisan depan, seekor gajah besar bernama Mahmud menjadi simbol ancaman. Pasukan ini sempat dihadang oleh Nufail bin Habib dari Khats’am, namun dengan cepat ditaklukkan. Nufail ditawan dan dijadikan penunjuk jalan ke Makkah.
Ketika pasukan mendekati kota suci, suasana berubah. Mahmud mendadak mogok saat diarahkan ke arah Ka’bah. Mereka mencambuknya, menusuknya, memaksanya—namun gajah itu tetap duduk. Aneh, Mahmud baru bergerak bila diarahkan ke selain Makkah.
Lalu langit bergerak. Sekelompok burung kecil datang dari arah laut, terbang dalam formasi aneh. Mereka membawa batu-batu kecil, satu di paruh dan dua di kaki. Saat dijatuhkan ke tubuh pasukan, batu itu menembus tubuh seperti peluru.
Kepanikan pecah. Pasukan yang begitu besar kini berlarian, tubuh mereka berguguran di jalanan. Tak semua mati seketika, sebagian kembali ke Yaman dalam keadaan mengenaskan. Termasuk Abrahah, yang meninggal dengan luka menganga di dada.
Ka’bah tetap berdiri. Tidak satu anak panah pun dilesatkan oleh penduduk Makkah. Yang menjaga rumah itu bukan manusia, melainkan langit sendiri. Peristiwa itu diabadikan dalam Surah al-Fîl dan dikenal sebagai Tahun Gajah.
Peristiwa ini tercatat dalam Surah al-Fîl sebagai pelajaran sejarah sekaligus bukti kekuasaan Tuhan. Allah menggagalkan tipu daya Abrahah dan menjadikan pasukannya seperti daun-daun yang dimakan ulat.
Ka’bah pun selamat tanpa satu pedang pun diangkat untuk membelanya. Langit yang turun tangan, dan burung yang tak bernama menjadi pahlawan di hari itu.
Masyarakat Arab menyebut tahun itu sebagai Tahun Gajah. Empat dekade kemudian, di tahun yang sama, lahirlah seorang anak dari Bani Hasyim yang kelak akan membawa wahyu terakhir.
Nabi Muhammad ﷺ lahir pada saat dunia telah melihat bagaimana Allah menjaga rumah-Nya. Peristiwa itu bukan hanya mukjizat, tapi juga peringatan bahwa tak ada rencana manusia yang lebih besar dari kehendak-Nya. (*)
Wallohu`alam