Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei (Foto: ATP)
Terasmuslim.com - Di tengah eskalasi terbaru konflik Timur Tengah, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyampaikan pernyataan tegas dan bernuansa spiritual menyusul serangan militer Israel ke fasilitas strategis di Iran, dan ancaman dari Amerika Serikat. Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional Iran dan dipublikasikan melalui platform X pada Rabu (18/6), termasuk di ICC Jakarta, Khamenei menyerukan keteguhan iman rakyat Iran seraya mengutip Surat Ali `Imran ayat 139 sebagai fondasi perlawanan moral.
"Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamu orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman." (QS Ali `Imran:139)
Ayat ini, menurut Khamenei, bukan sekadar penghibur spiritual, melainkan sumber energi kolektif bangsa dalam menghadapi tekanan militer dan politik dari luar, terutama dari Israel dan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut hadir tak berselang lama setelah serangan Israel dalam operasi yang disebut "Rising Lion" pada Jumat (13/6/2025), yang menghantam sejumlah fasilitas nuklir dan pabrik persenjataan Iran. Media pemerintah Iran (IRNA) melaporkan bahwa beberapa komandan senior Garda Revolusi Islam (IRGC), ilmuwan nuklir, dan warga sipil—termasuk anak-anak—menjadi korban dalam serangan itu.
Khamenei menegaskan, serangan balasan ke wilayah Israel seperti Haifa bukan aksi balas dendam, melainkan tanggapan rasional terhadap apa yang disebutnya sebagai "kejahatan dan kebodohan Zionis".
Ia juga menyebut perjuangan rakyat Iran sebagai bagian dari rangkaian sejarah panjang perlawanan di Timur Tengah—dari Gaza hingga Lebanon, dari Qassem Soleimani hingga warga sipil yang gugur di Jalur Gaza.
Ayat yang dikutip Khamenei mengacu pada konteks kekalahan umat Islam dalam Perang Uhud, di mana semangat juang kaum Muslim sempat surut karena kehilangan tokoh dan posisi strategis. Namun, ayat tersebut justru turun sebagai pengingat bahwa kekalahan bukan akhir, dan bahwa keimanan adalah sumber kemenangan sejati.
Menurut tafsir resmi Kementerian Agama RI, ayat ini menegaskan bahwa kedudukan orang beriman akan selalu lebih tinggi, asalkan mereka tidak gentar menghadapi ujian. Dalam konteks Iran, ayat ini dijadikan kerangka berpikir nasional: kekuatan sejati lahir bukan dari senjata, tetapi dari keyakinan yang tak tergoyahkan, demikian dikutip Tafsirweb.
Pesan Khamenei juga beresonansi secara lebih luas sebagai bentuk politik spiritual. Di saat negara-negara adidaya mengandalkan kekuatan militer dan diplomasi koersif, Iran, menurutnya, mendasarkan keteguhannya pada ayat-ayat langit, sebagai sumber motivasi dan pembingkai narasi nasional.
Ayat itu, dalam pandangan pengamat Timur Tengah, menginspirasi formasi ulang terhadap konsep "kemenangan"—bukan sebagai dominasi fisik, tetapi sebagai keberlangsungan iman, solidaritas rakyat, dan keberanian bertahan.
Selain QS Ali `Imran:139, Khamenei juga mengutip ayat 126 dari surat yang sama, yang berbunyi:
"Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS Ali `Imran:126)
Kutipan tersebut mempertegas bahwa, dalam narasi politik Iran, perlawanan bukan soal ideologi belaka, tetapi keyakinan bahwa takdir sejarah berada di tangan Tuhan. Ia pun mengajak seluruh bangsa untuk bertawakal, bersatu, dan tidak menyerah kepada tekanan luar. (*)
Wallohu`alam