
Ilustrasi Menjaga lisan (Foto: Ist)
Terasmuslim.com - Para ulama salaf sangat menyadari bahwa lisan merupakan salah satu anggota badan yang paling berpotensi menjerumuskan manusia ke dalam dosa.
Kesadaran tersebut mendasari kehati-hatian yang luar biasa dari mereka dalam setiap tutur kata yang diucapkan sehari-hari.
Bagi mereka, setiap ucapan yang keluar dari mulut akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat teliti di hadapan Allah SWT.
Prinsip tersebut sejalan dengan peringatan tegas Allah SWT dalam Surah Qaf ayat 18: "Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."
Kehati-hatian ulama salaf dalam berbicara berakar dari pemahaman mendalam terhadap dampak bahaya lisan bagi kebersihan jiwa.
Mereka memegang teguh sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam."
Bagi ulama terdahulu, diam yang bernilai tafakur jauh lebih mulia daripada banyak berbicara namun berisiko memicu gunjingan atau kedustaan.
Allah SWT mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui dalam Surah Al-Isra` ayat 36 bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati nurani semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.
Para ulama salaf meyakini bahwa kesucian hati seseorang sangat bergantung pada sejauh mana ia mampu mengendalikan lisannya dari perkataan sia-sia.
Pesan ini diperkuat oleh hadis Nabi SAW riwayat Tirmidzi yang menjelaskan bahwa mayoritas manusia disungkurkan ke dalam neraka akibat hasil perbuatan lisan mereka.
Oleh karena itu, banyak di antara ulama salaf yang memilih menghitung ucapan mereka sebagaimana seseorang menghitung pengeluaran hartanya.
Sikap brought ini lahir dari rasa takut yang tinggi akan bahaya dosa ghibah, adu domba, serta prasangka buruk yang merusak ikatan ukhuwah.
Sifat wara` atau kehati-hatian para ulama salaf menjadi benteng utama yang membimbing mereka untuk selalu memilih kalimat yang menyejukkan dan bernilai ibadah.
Integrasi antara keteguhan iman dan lisan yang terjaga menjadikan kehidupan para ulama senantiasa dipenuhi keberkahan serta ketenangan jiwa.
Meneladani kebiasaan ulama salaf dalam menjaga lisan merupakan kunci penting bagi umat Islam modern agar terhindar dari fitnah dan dosa di era informasi.
TAGS : menjaga lisan keutamaan diam keteladanan ulama Islam