
Ilustrasi Firaun dan para penyihir menantang nabi Musa AS bertarung adu kesaktian (foto:zonamerdeka)
Terasmuslim.com - Dalam panggung politik dan birokrasi, kekuasaan sering kali diperebutkan seolah-olah ia adalah sebuah hadiah atau keistimewaan (privilese).
Namun, dalam pandangan Islam, paradigma tersebut berbalik 180 derajat. Kekuasaan, jabatan, dan otoritas bukanlah sarana untuk memuaskan kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan sebuah beban amanah yang teramat berat.
Abad ke-19 mengenal adagium terkenal dari Lord Acton "Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely" (Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan absolut pasti korup).
Jauh sebelum dunia modern merumuskan bahaya penyalahgunaan wewenang (abuse of power), Al-Quran telah meletakkan pagar-pagar etis dan hukum yang sangat ketat bagi para pemegang kekuasaan.
Hal ini bisa tersirat dalam kisah Firaun. Firaun Ramses II yang hidup di masa Nabi Musa AS ialah contoh bagaimana seorang pemimpin yang awalnya memegang kendali, perlahan berubah menjadi tirani akibat terbuai oleh fasilitas, kepatuhan buta bawahannya, dan absolutisme kekuasaan.
Salah satu strategi Firaun yang paling merusak adalah membagi stratifikasi sosial masyarakat menjadi beberapa kubu. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Al-Qasas ayat 4:
"Sungguh, Firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah..."
Firaun menganakemaskan kaum pribumi Qibti (kroni dan pendukung setianya) dan menindas Bani Israil secara struktural. Dengan membuat rakyatnya saling curiga dan terpecah, Firaun dapat dengan mudah mengontrol massa dan mencegah munculnya persatuan yang bisa menggoyang takhtanya.
Bahkan ketika Nabi Musa datang membawa argumen, data, dan mukjizat yang logis, Firaun tidak melawannya dengan argumen yang setara. Ia justru menggunakan instrumen kekuasaannya untuk melakukan intimidasi.
Firaun mengancam para penyihir kerajaan yang memilih tobat dan beriman kepada Allah setelah melihat kebenaran Musa.
Ia memotong tangan dan kaki mereka secara silang serta menyalibnya di pohon kurma (QS. Tha-ha: 71).
Ini adalah bentuk nyata dari represi penguasa, siapa pun yang berani membocorkan atau mengakui kebenaran di luar narasi resmi istana, akan menghadapi mutasi hidup berupa siksaan dan kematian.
Allah juga berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 27:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَخُونُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓاْ أَمَٰنَٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui”. (QS Al-Anfal: 27).
TAGS : Kisah Firaun Penyalahgunaan Kekuasaan Tafsir Al Quran