UMRAH & HAJI

Ini Tanda-tanda Kemabruran Ibadah Haji Menurut Ulama

M. Habib Saifullah| Senin, 04/05/2026
Dalam ajaran Islam, haji mabrur merupakan kasta tertinggi ibadah haji yang balasannya adalah surga Ibadah haji di Mekah, Arab Saudi (Foto: Dok. Ditjen PHU)

Terasmuslim.com - Dalam ajaran Islam, haji mabrur merupakan kasta tertinggi ibadah haji yang balasannya adalah surga.

Namun, kemabruran seorang jemaah bukan dilihat dari gelar yang melekat di depan nama, melainkan pada perubahan perilaku dan dampak sosial setelah kembali ke masyarakat.

Rasulullah SAW menegaskan keutamaannya dalam sabda beliau:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ

Baca juga :

“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.”

Hadis ini menunjukkan bahwa haji mabrur bukan perkara ringan. Balasannya langsung disebut surga, yang berarti ibadah tersebut dilakukan dengan keikhlasan, ketundukan, dan diterima di sisi Allah SWT.

Lalu para sahabat bertanya tentang tanda-tandanya. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:

قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ مَا بِرُّ الْحَجِّ الْمَبْرُورُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

“Mereka bertanya, ‘Wahai Nabi Allah, apa tanda kebaikan haji mabrur itu?’ Beliau menjawab, Memberi makan dan menyebarkan salam.” (HR Ahmad)

Dalam riwayat Imam at-Thabrani disebutkan pula:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ. قَالَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَطِيبُ الْكَلَامِ

“Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga. Sahabat bertanya, ‘Apa tanda kemabrurannya?’ Beliau menjawab, Memberi makan dan berkata baik.” (HR at-Thabrani)

Dua riwayat ini memberi pelajaran penting bahwa kemabruran haji tidak berhenti pada rangkaian manasik di Tanah Suci. Tanda-tandanya tampak setelah seseorang kembali ke tengah masyarakat.

Orang yang hajinya diterima akan lebih peduli kepada sesama, ringan membantu, ramah dalam pergaulan, serta menjaga lisannya dari ucapan yang menyakitkan. Haji yang benar melahirkan manfaat sosial, bukan sekadar kebanggaan pribadi.

Para ulama juga menjelaskan hakikat haji mabrur dari berbagai sudut pandang yang saling menguatkan. Imam al-Qurthubi menyebut:

وَقَالَ الْفُقَهَاءُ: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ هُوَ الَّذِي لَمْ يُعْصَ اللَّهُ تَعَالَى فِيهِ أَثْنَاءَ أَدَائِهِ

“Para fuqaha berkata: Haji mabrur adalah haji yang tidak diiringi kemaksiatan kepada Allah selama pelaksanaannya.” (Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an [Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah], juz 2, h. 408)

Artinya, sejak berihram hingga selesai, ibadah itu dijaga dari dosa, pertengkaran, kezaliman, dan pelanggaran syariat. Haji bukan sekadar hadir di tempat suci, tetapi juga menjaga diri dengan sungguh-sungguh.

Tidak berhenti pada aspek teknis ibadah, Imam al-Qurthubi juga menukil ucapan Hasan al-Bashri:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ هُوَ أَنْ يَرْجِعَ صَاحِبُهُ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ

“Haji mabrur ialah ketika pelakunya pulang dalam keadaan zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat.” (Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur’an [Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah], juz 2, h. 408)

Ini menunjukkan bahwa tanda paling nyata dari haji mabrur adalah perubahan orientasi hidup. Seseorang yang sebelumnya terlalu sibuk mengejar dunia, setelah berhaji menjadi lebih sadar bahwa hidup ini singkat dan akhirat jauh lebih penting.

Makna ini diperkuat Imam al-Ghazali, beliau menegaskan:

بَلْ عَلَامَتُهُ أَنْ يَعُودَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ مُتَأَهِّبًا لِلِقَاءِ رَبِّ الْبَيْتِ بَعْدَ لِقَاءِ الْبَيْتِ

“Tanda haji mabrur ialah ia pulang dengan zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat, dan bersiap bertemu Pemilik Ka‘bah setelah berjumpa dengan Ka‘bah.” (Ihya’ ‘Ulumiddin [Beirut: Dar al-Ma‘rifah], juz 1, h. 261)

Kiranya ungkapan ini perlu untuk benar-benar direnungkan. Betapa banyak orang dapat melihat Ka‘bah, tetapi tidak semua pulang dengan hati yang semakin rindu kepada Allah.

Dalam Hasyiyah al-Jamal dijelaskan pula:

وَحَاصِلُهُ أَنَّ الْحَجَّ الَّذِي وُفِّيَتْ أَحْكَامُهُ وَوَقَعَ مَوْقِعًا لِمَا طُلِبَ مِنْ الْمُكَلَّفِ عَلَى الْوَجْهِ الْأَكْمَلِ

“Intinya, haji mabrur adalah haji yang ditunaikan dengan memenuhi seluruh ketentuannya dan dilaksanakan sebagaimana yang dituntut secara sempurna.” (Hasyiyah al-Jamal/Futuhat al-Wahhab bi Tawdih Syarh Manhaj ath-Thullab [Beirut: Dar al-Fikr], juz 2, h. 440)

Ini berarti kemabruran menuntut kesungguhan lahir dan batin. Dengan kata lain, diperlukan pemahaman seputar ilmu manasik yang benar, niat yang lurus, serta adab yang terjaga.

Sementara Imam al-Munawi menyimpulkan dengan sangat praktis, sebagai berikut:

وَمِنْ عَلَامَةِ الْقَبُولِ أَنَّهُ يَرْجِعُ خَيْرًا مِمَّا كَانَ وَلَا يُعَاوِدُ الْمَعَاصِي

“Tanda diterimanya haji adalah ia pulang menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak kembali mengulangi maksiat.” (Faidh al-Qadir Syarh al-Jami‘ ash-Shaghir [Mesir: al-Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra], juz 3, h. 406)

Demikian inilah ringkasan paling jelas. Jika setelah haji seseorang lebih jujur, lebih sabar, lebih menjaga shalat, lebih lembut kepada keluarga, lebih amanah dalam pekerjaan, dan semakin menjauhi dosa, maka itu pertanda baik bagi hajinya. Sebaliknya, jika sepulang haji tetap tenggelam dalam kebiasaan lama, maka ia perlu banyak muhasabah.

Sumber: MUI

TAGS : Haji Mabrur Ibadah Haji Haji 2026

Terkini