Ilustrasi berdoa (Foto: Pexels/Thridman)
Terasmuslim.com - Hari Jumat selalu menempati kedudukan paling utama dalam siklus mingguan umat Islam.
Dikenal sebagai Sayyidul Ayyam atau Pemimpin Hari, Jumat bertabur berbagai stimulasi spiritual, mulai dari kewajiban salat Jumat, sunnah membaca Surat Al-Kahfi, hingga melimpahnya pahala sedekah.
Namun, di antara seluruh konstelasi waktu sepanjang hari Jumat, ada satu fragmen waktu yang memiliki derajat kesakralan luar biasa dalam hal pengabulan doa.
Waktu tersebut berada di penghujung hari, tepatnya selepas salat Ashar hingga menjelang berkumandangnya azan Magrib.
Bagi para pencari rida Tuhan dan mereka yang sedang dihimpit hajat duniawi maupun ukhrawi, waktu setelah Ashar di hari Jumat adalah "menit-menit emas" yang tidak boleh dilewatkan.
Berdasarkan dalil-dalil sahih dan syarah para ulama, berikut alasan mendalam mengapa waktu tersebut begitu sakral untuk memanjatkan doa:
Dalam sebuah hadis riwayat Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah SAW menegaskan eksistensi waktu istimewa ini secara spesifik.
Nabi SAW bersabda, "Hari Jumat itu dua belas jam. Tidak ada seorang Muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah SWT dalam waktu tersebut melainkan Allah akan mengabulkannya, maka carilah waktu tersebut di akhir jam setelah Ashar." (HR. An-Nasa`i dan Abu Dawud).
Hadis ini menjadi legitimasi teologis kuat bahwa ada jendela langit yang terbuka lebar di penghujung hari Jumat.
Setiap untaian hajat yang dipanjatkan dengan keyakinan penuh memiliki probabilitas sangat tinggi untuk langsung diijabah oleh Sang Pencipta.
Para ulama menganalogikan keberadaan waktu mustajab di hari Jumat ini seperti misteri malam Lailatul Qadr di bulan Ramadan.
Allah SWT sengaja tidak menetapkan menit pastinya secara eksplisit agar umat Islam memiliki etos perjuangan spiritual untuk terus mencarinya.
Kendati ada beberapa perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kapan persisnya waktu tersebut, mayoritas sahabat Nabi dan tabi`in sepakat pada satu garis linier.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyebutkan bahwa pendapat paling kuat adalah waktu setelah Ashar hingga terbenamnya matahari.
Sifatnya yang misterius namun berbatas waktu ini justru menaikkan tensi kekhusyukan seorang hamba.
Berada dalam kondisi menanti dan berharap di waktu-waktu kritis tersebut dinilai sebagai bentuk ibadah tersendiri yang sangat dicintai Allah.
Menutup hari Jumat dengan istighfar, selawat, dan doa mendalam ibarat menyegel buku amalan mingguan dengan akhir yang baik (husnul khatimah). Allah SWT senantiasa memuliakan para hamba-Nya yang mengingat-Nya di waktu-waktu transisi krusial tersebut.