Ilustrasi foto selfie
Terasmuslim.com - Perkembangan teknologi digital yang masif tanpa disadari telah mengubah lanskap perilaku dan kondisi psikologis umat manusia saat ini.
Fenomena kecanduan berselancar di media sosial serta obsesi berfoto mandiri (selfie) kini bukan lagi sekadar tren gaya hidup belaka.
Dunia medis global mulai mengkategorikan perilaku kompulsif tersebut ke dalam ranah gangguan kesehatan mental yang dikenal dengan istilah selfitis.
Para ahli psikologi menyatakan bahwa adiksi digital ini memicu kecemasan akut, depresi berat, hingga memburuknya gejala Body Dysmorphic Disorder (BDD).
Seseorang yang terjebak dalam lingkaran ini cenderung menuntut pengakuan semu demi memuaskan nafsu narsisme dan haus akan pujian khalayak.
Dari kacamata syariat Islam, fenomena mencemaskan ini sangat selaras dengan peringatan dalam Al-Qur`an mengenai bahaya perilaku membanggakan diri secara berlebihan.
Allah SWT secara tegas melarang hamba-Nya untuk bersikap sombong serta terlalu mengagumi eksistensi diri sendiri di hadapan manusia.
QS. Luqman: 18, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh."
Selain itu, kesibukan tanpa batas di dunia maya kerap kali membuat seorang Muslim lalai dari mengingat Allah serta abai terhadap kewajiban ibadah utamanya.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadist sahih telah mengingatkan umatnya untuk senantiasa meninggalkan hal-hal yang tidak memberikan kemanfaatan hakiki.
"Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi).
Secara spiritual, kecanduan memamerkan kemolekan diri atau pencapaian duniawi berpotensi besar memicu penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu riya` dan ujub.
Kedua penyakit batin tersebut bertolak belakang dengan nilai ketakwaan yang mengedepankan sifat rendah hati (tawadhu`) serta keikhlasan dalam beramal.
Ketergantungan emosional pada jumlah tanda suka (likes) dan komentar netizen lambat laun akan merusak ketenangan jiwa yang bersumber dari zikir.
Oleh karena itu, melakukan pembatasan durasi layar (digital detox) menjadi langkah preventif yang sangat dianjurkan demi menjaga kesehatan akal dan kebersihan hati.
Bijak dalam memanfaatkan gawai merupakan wujud rasa syukur atas nikmat waktu agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi di akhirat kelak.