
Ilustrasi foto Imam Syafii
Terasmuslim.com - Imam Asy-Syafi`i lahir di Gaza dalam keadaan yatim dan tumbuh dalam kondisi ekonomi keluarga yang sangat sederhana.
Ibunya membawa beliau berpindah ke Makkah demi menjaga nasab kebangsawannya serta mendapatkan lingkungan pendidikan Islam yang terbaik.
Sejak usia sangat belia, beliau telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dengan menghafal seluruh isi Al-Quran pada usia tujuh tahun.
Semangat belajar beliau selaras dengan perintah Allah SWT yang mewajibkan setiap hamba-Nya untuk senantiasa menuntut dan mengembangkan ilmu.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 122: Wa ma kanal-mu`minuna liyangfiru kaffah, falaula nafara min kulli firqatim minhum tha`ifatul liyatafaqqahu fid-din (Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang, mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama).
Setelah menghafal Al-Quran, Imam Asy-Syafi`i mengasingkan diri ke pedalaman Dusun Banu Hudhail untuk menguasai bahasa dan sastra Arab murni.
Pada usia sepuluh tahun, beliau berhasil menghafal Kitab Al-Muwatta karya Imam Malik hanya dalam waktu beberapa hari saja.
Kegigihan beliau dalam mengarungi perjalanan panjang demi mencari ilmu membuktikan komitmen tinggi bagi seorang penuntut ilmu sejati.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Muslim: Man salaka thariqan yaltamisu fihi `ilman sahhallallahu lahu bihi thariqan ilal-jannah (Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga).
Beliau kemudian merantau ke Madinah untuk berguru langsung kepada Imam Malik dan menyerap keilmuan fikih dari ulama besar tersebut.
Tidak berhenti di sana, pengembaraan ilmunya berlanjut ke Irak untuk mempelajari metodologi fikih dari para murid terkemuka Imam Abu Hanifah.
Kombinasi antara ilmu hadis Makkah-Madinah dan analisis ijtihad Irak melahirkan kemampuan kritis beliau dalam merumuskan metodologi hukum Islam.
Keilmuan beliau yang matang mengantarkannya menyusun Kitab Ar-Risalah yang menjadi fondasi utama dalam disiplin ilmu Ushul Fikih.
Puncak perjalanan intelektualnya ditandai dengan keberhasilannya menjadi seorang mujtahid mutlak yang mendirikan Mazhab Syafi`i.
Kisah kegigihan Imam Asy-Syafi`i mengajarkan Umat Islam bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan ilmu pengetahuan.
TAGS : pendiri mazhab menuntut ilmu Islam