KEISLAMAN

Bahaya Menjatuhkan Kehormatan Orang Lain Demi Meraih Pujian

Yahya Sukamdani| Selasa, 29/09/2026
Perilaku ghibah menjatuhkan orang lain mengikis kehormatan dan kemuliaan. Ilustrasi mencela orang lain

Terasmuslim.com - Fenomena sebagian orang yang ingin terlihat lebih hebat dengan cara menjatuhkan kehormatan sesama merupakan cerminan krisis moral yang kian meresahkan.

Keinginan meraih popularitas dan pengakuan publik kerap memicu seseorang untuk membicarakan kekurangan serta membuka aib saudara seimannya sendiri.

Perilaku buruk ini kerap dimanfaatkan sebagai tangga instan untuk mengangkat reputasi diri di atas keruntuhan nama baik orang lain.

Padahal dalam ajaran Islam, menjatuhkan kehormatan sesama Muslim merupakan perbuatan zalim yang sangat dilaknat dan diharamkan secara tegas.

Baca juga :

Allah SWT mengingatkan kehinaan orang yang gemar menggunjing dan mencari-cari kesalahan orang lain dalam Al-Qur`an Surah Al-Hujurat ayat 12.

Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain..." (QS. Al-Hujurat: 12).

Dalam ayat tersebut, Allah SWT mengibaratkan perbuatan ghibah seperti memakan daging saudaranya sendiri yang sudah meninggal dunia.

Ghibah sendiri dijelaskan oleh Rasulullah SAW sebagai tindakan menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang tidak ia sukai meskipun perkataan itu benar.

Rasulullah SAW memperingatkan ancaman besar bagi orang yang suka membocorkan dan mencari-cari aib sesama Muslim melalui sabda mulianya.

Beliau bersabda: "Barang siapa yang mencari-cari kejelikan saudaranya sesama Muslim, maka Allah akan mencari-cari kejelikannya..." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Mencari kemuliaan tidak akan pernah berhasil jika ditempuh melalui jalan maksiat dengan menginjak dan merendahkan harkat sesama hamba.

Kehebatan dan kemuliaan sejati seorang Muslim justru diukur dari kedalaman ilmu, keikhlasan amal, kerja keras, serta keluhuran akhlaknya.

Menjaga lisan dari menyebarkan keburukan orang lain menjadi sarana ampuh untuk meraih keridaan Allah SWT serta kedamaian di tengah masyarakat.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa keselamatan seorang hamba sangat bergantung pada kemampuannya dalam menjaga dan mengendalikan lisan.

Beliau bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR. Bukhari dan Muslim).

TAGS : hukum ghibah membuka aib saudara menjaga lisan

Terkini